Responsive Ads Here

Jumat, 26 Juni 2020

Tingkat Okupansi Hotel Di Yogyakarta Mulai Naik Secara Perlahan

Tingkat keterisian atau okupansi hotel di Yogyakarta mulai membaik secara perlahan-lahan terutama ketika akhir pekan walaupun jumlah tamu pada hari lainnya masih cukup rendah.

"Pada akhir pekan, mulai Jumat hingga Minggu, okupansi hotel bintang dapat mencapai 35 persen terutama untuk sektor tengah. Ini terjadi pada akhir pekan lalu," kata Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Yogyakarta Dedy Pranawa Eryana.

Sedangkan untuk hotel non-bintang, okupansi pada akhir pekan masih rendah yaitu sekitar lima hingga 10 persen.

Menurut Deddy, pengelola hotel lalu menempuh berbagai upaya untuk menaikan tingkat okupansi kamar seperti memberikan harga promo pada akhir pekan sehingga harga kamar pada akhir pekan menjadi lebih murah dibandingkan pada hari lainnya.

Tingkat Okupansi Hotel Di Yogyakarta Mulai Naik Secara Perlahan

"Kami sedang mencoba mengetes animo pasar pada masa yang akan datang. Walaupun okupansi masih belum membaik tetapi kami mencoba untuk terus melakukan branding bahwa sudah ada hotel yang telah beroperasi kembali," katanya.

PHRI DIY, lanjutnya sangat memahami jika okupansi hotel belum membaik karena banyak layanan transportasi publik yang belum dioperasikan secara penuh seperti kereta api ataupun pesawat terbang.

"Tamu yang menginap pun rata-rata berasal dari wilayah di sekitar DIY. Bahkan banyak dari dalam DIY. Mungkin masyarakat ingin menghilangkan kejenuhan setelah beberapa waktu menghabiskan waktu di rumah," katanya.

Akan tetapi, Deddy mengatakan bahwa telah banyak wisatawan dari luar Yogyakarta yang menanyakan apakah objek wisata dan hotel di Yogyakarta telah beroperasi kembali.

"Bahkan ada yang telah mengajukan reservasi seperti dari Lampung, Kalimantan, Sukabumi. Tetapi kami jelaskan bahwa belum memiliki banyak objek wisata yang beroperasi kembali sehingga mereka memundurkan jadwal kunjungan," jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, dari 400 hotel dan restoran yang bergabung didalam PHRI DIY sebanyak 63 yang telah kembali beroperasi dengan menerapkan standar ketat untuk protokol kesehatan.

"Jika tidka memenuhi protokol kesehatan maka tempat usaha tersebut akan dilarang untuk dibuka," katanya.

Jika pemerintah DIY memperpanjang masa tanggap COVID-19 maka dirinya mengusulkan supaya ada objek yang diizinakn untuk tetap dibuka. Jika sesuai dengan kebijakan dari Pemerintah Provinsi DIY, masa tanggap darurat COVID-19 akan berakhir pada 30 Juni.

"Kami mengharapkan ada dukungan pemerintah karena telah banyak pelaku usaha hotel dan restoran yang sudah hampir mati. Kami ingin kegiatan ekonomi dapat tetap berjalana seiring dengan penerapan protokol kesehatan," jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar