Responsive Ads Here

Senin, 23 September 2019

Persaingan Yang Ketat Membuat Pengusaha Homestay Ubud Banting Harga

Menjamurnya hotel dengan budget rendah atau Budget Hotel di Ubud sehingga membuat eksitensi dari homestay milik warga lokal menjadi terancam merupakan sebuah kabar yang benar adanya.
Wayan Adi Sumiarta yang merupakan pemilik dari Adiari Homestay yang berada di Padang Tegal, Ubud mengakui bahwa terdapat penurunan pendapatan pada homestay yang dimilikinya. Penurunan tersebut bahkan sudah terjadi dari tahun 2012.

Bahkan saat ini, para pemilik homestay tidak lagi hanya sekedar menyewakan kamar akan tetapi juga juga menjalankan pekerjaan sampingan menjadi driver dan guide bagi para wisatawan.

"Yang saya tahu itu dari tahun 2012 itu sudah ada gejala penurunan pada beberapa homestay. Penyebabnya karena banyaknya budget hotel yang terus bermunculan di Ubud ini. Dalam 2-3 tahun belakangan ini penurunannya semakin terasa," kata Adi.

Persaingan Yang Ketat Membuat Pengusaha Homestay Ubud Banting Harga

Dengan banyaknya Budget Hotel di Ubud, membuat para pemilik homestay seperti Adi membanting harga dari homestay yang mereka miliki.

"Ada rekan sesama pemilik homestay yang berpendapat bahwa daripada kamar kosong lebih baik disewakan dengan harga yang lebih murah sehingga ada pemasukan untuk menutupi biaya operasi," jelasnya.

Sebagai perbandingan, sebelum tahun 2012, pada low season para pemilik homestay ini dapat menyewakan kamar dengan harga paling murah Rp 300 ribu per malam sedangkan pada high season, harga bisa mencapai dua kali lipat.

"Saya ingat sebelum 2012 itu ketika high season semua homestay bisa penuh, bahkan ada wisatawan yang terpaksa harus tidur di balai dangin karena tidak mendapatkan kamar," tambahnya.

"Kalau sekarang ini boro-boro bisa penuh, high season saja bisa terisi dua kamar sehari saja sudah sangat bagus," lanjutnya.

Pria yang saat ini berprofesi sebagai seorang pengacara ini mengatakan bahwa pada low season paling laku adalah 1 kamar dan itu pun tidak rutin setiap hari dan harganya juga tidak dapat dijual dengan harga setinggi sebelum 2012.

"Kalau high season bisa jual Rp 200 ribu per malam dan saat low season itu Rp 150 ribu per malam itu pun harus beruntung betul karena biasanya pasti ada yang menjatuhkan harga," ungkapnya.

Ketika disinggung terkait dengan ketatnya persaingan di Ubud, Adi menjelaskan bahwa persaingan saat ini sudah sangat ketat tidak hanya diantara para pengusaha homestay akan tetapi dengan pengusaha budget hotel.

Adi memberikan perbandingan, sebelumnya di wilayah Banjar hanya ada beberapa warga yang menyediakan homestay akan tetapi saat ini hampir semua sudah menyediakan homestay dengan minimal ada 4 kamar.

"Jadi dapat dibayangkan ketatnya gimana saat ini. Belum lagi persaingan dengan para budget hotel semakin membuat pangsa pasar dari wisatawan yang akan menginap di homestay semakin berkurang," akunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar